Leverage sering menjadi hal pertama yang dibicarakan ketika membahas risiko dalam trading. Semakin besar leverage, semakin kecil pergerakan harga yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan besar pada equity. Karena itu, menurunkan leverage biasanya dianggap sebagai langkah yang otomatis membuat trading menjadi lebih aman. Masalahnya, risiko dalam trading tidak hanya datang dari leverage. Seorang trader bisa menggunakan leverage lebih rendah, tetapi pada saat yang sama memperbesar ukuran posisi, memilih aset yang jauh lebih volatil, atau berpindah ke instrumen yang memiliki pergerakan harga lebih agresif.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2024 menunjukkan bahwa perilaku seperti ini benar-benar terjadi. Matthias Pelster, dalam paper berjudul Leverage Constraints and Investors’ Choice of Underlyings yang diterbitkan di Journal of Banking & Finance, menganalisis bagaimana trader retail bereaksi ketika batas leverage pada produk CFD diperketat di Eropa pada 2018. Platform yang digunakan dalam penelitian tersebut menawarkan berbagai instrumen, termasuk forex, cryptocurrency, saham, komoditas, dan indeks.
Setelah aturan baru berlaku, penggunaan leverage memang turun. Sampai di sini hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Jika leverage dibatasi, trader tidak lagi bisa membangun exposure sebesar sebelumnya dengan modal yang sama. Namun penelitian tersebut menemukan perubahan lain yang jauh lebih menarik. Sebagian trader mulai mengalihkan aktivitasnya ke underlying asset yang memiliki risiko lebih tinggi.
Artinya, risiko yang sebelumnya diperoleh melalui leverage mulai dicari melalui karakter aset yang diperdagangkan.
Temuan ini penting karena kita sering melihat leverage sebagai ukuran tunggal risiko. Trader dengan leverage 1:10 dianggap lebih konservatif daripada trader yang menggunakan 1:50. Padahal perbandingan seperti itu belum tentu berarti banyak jika kita tidak mengetahui aset yang diperdagangkan, ukuran posisi, volatilitas pasar, dan seberapa besar modal yang sebenarnya sedang dipertaruhkan.
Bayangkan seorang trader membuka posisi kecil pada EUR/USD dengan leverage relatif tinggi. Di sisi lain, trader lain menggunakan leverage yang jauh lebih rendah, tetapi mengambil posisi besar pada cryptocurrency yang volatilitas hariannya berkali-kali lipat lebih tinggi. Dari angka leverage saja, trader kedua mungkin terlihat lebih aman. Namun secara keseluruhan, exposure terhadap pergerakan pasar bisa justru jauh lebih besar.
Inilah salah satu alasan mengapa penelitian Pelster tidak hanya melihat leverage, tetapi juga menggabungkannya dengan volatilitas underlying asset untuk memahami risk-taking secara lebih menyeluruh. Leverage dua kali pada aset yang biasanya bergerak kurang dari satu persen sehari tentu tidak sama dengan leverage dua kali pada aset yang bisa bergerak lima atau sepuluh persen dalam periode yang sama.
Bagi trader forex dan crypto, perbedaan ini sangat relevan. Major forex pairs seperti EUR/USD biasanya memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan banyak cryptocurrency. Karena pergerakannya relatif kecil, broker sejak lama menawarkan leverage yang lebih tinggi pada pasar forex. Crypto bekerja dengan karakter yang berbeda. Underlying asset-nya sendiri sudah sangat volatil, sehingga posisi tidak membutuhkan leverage ekstrem untuk menghasilkan perubahan besar pada nilai akun.
Hal ini membuat pertanyaan “berapa leverage yang aman?” menjadi terlalu sederhana. Angka leverage hanya memberi tahu kita seberapa besar exposure yang bisa dibangun dibandingkan modal yang tersedia. Angka tersebut tidak menjelaskan seberapa cepat underlying asset bergerak, seberapa besar posisi relatif terhadap akun, atau seberapa jauh harga dapat bergerak sebelum trader terpaksa keluar dari posisi.
Penelitian Pelster juga membuka pertanyaan yang lebih menarik mengenai perilaku trader. Dalam literatur keuangan terdapat gagasan bahwa sebagian investor memiliki tingkat risiko tertentu yang mereka anggap nyaman atau menarik. Jika salah satu cara untuk mencapai tingkat risiko tersebut dibatasi, mereka belum tentu mengurangi selera risikonya. Mereka bisa mencari cara lain.
Dalam konteks trading, hal ini cukup mudah dibayangkan. Ketika leverage maksimum diturunkan, seorang trader bisa menerima exposure yang lebih kecil dan benar-benar menurunkan risikonya. Namun trader yang masih menginginkan potensi pergerakan besar mungkin memilih pair yang lebih volatil, meningkatkan ukuran posisi, atau berpindah ke crypto. Secara teknis leverage turun, tetapi perilaku terhadap risiko belum tentu berubah secara signifikan.
Itulah inti dari temuan penelitian tersebut. Pembatasan leverage memang efektif menekan penggunaan leverage, tetapi dampaknya terhadap keseluruhan risk-taking menjadi lebih kecil ketika trader mengganti leverage yang hilang dengan underlying asset yang lebih berisiko.
Pelajaran untuk trader bukan bahwa leverage rendah tidak berguna. Mengurangi leverage tetap dapat membantu membatasi exposure berlebihan. Namun leverage seharusnya dilihat sebagai satu bagian dari sistem risiko yang lebih besar. Position size, volatilitas, stop distance, margin requirement, likuiditas pasar, dan besarnya modal yang terekspos pada satu posisi semuanya ikut menentukan seberapa berbahaya sebuah trade sebenarnya.
Karena itu, seorang trader dengan leverage 1:20 belum tentu mengambil risiko lebih kecil daripada trader lain dengan leverage 1:50. Trader pertama bisa saja mempertaruhkan sebagian besar akun pada aset yang sangat volatil, sementara trader kedua hanya menggunakan sebagian kecil modalnya pada posisi dengan batas kerugian yang jelas.
Hal yang lebih penting untuk dipahami adalah seberapa besar kerugian yang bisa terjadi ketika asumsi trading salah. Dari sana barulah leverage mempunyai konteks. Leverage hanya memperbesar exposure yang sudah kita ambil. Ia bukan satu-satunya sumber risiko.
Penelitian ini menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi sering terlewat. Ketika satu bentuk risiko dikurangi, trader bisa saja memindahkan risiko tersebut ke tempat lain. Dari leverage yang tinggi menjadi aset yang lebih volatil, dari posisi kecil menjadi posisi yang lebih besar, atau dari instrumen yang relatif stabil menuju market yang bergerak lebih agresif.
Risk management karena itu tidak seharusnya berhenti pada angka leverage yang diberikan broker atau exchange. Yang lebih penting adalah memahami seberapa besar risiko yang benar-benar sedang dibawa ke dalam posisi setelah seluruh komponen tersebut digabungkan.
Leverage hanyalah salah satunya.
Referensi
Pelster, M. (2024). Leverage constraints and investors’ choice of underlyings. Journal of Banking & Finance, 162, 107150. https://doi.org/10.1016/j.jbankfin.2024.107150
European Securities and Markets Authority. (2018). ESMA adopts final product intervention measures on CFDs and binary options.
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau memperdagangkan instrumen keuangan tertentu.




